KONTROL LALAT DALAM MENCEGAH PENYEBARAN PENYAKIT

KONTROL lalat dalam suatu farm merupakan hal yang mendasar dalam manajemen pengendalian penyakit. Lalat dapat menimbulkan berbagai masalah di suatu peternakan, diantaranya dapat menyebarkan penyakit, menganggu pekerja kandang, menurunkan produksi, menurunkan kualitas telur dan mencairkan kotoran ayam (menimbulkan ammonia tinggi).
Serangga satu ini memiliki keunikan di bandingkan dengan serangga lain, yakni biasa meludahi makanannya sendiri. Lalat hanya bisa makan dalam kondisi cair. Reaksi lalat terhadap makanan yang dihadapi akan mengeluarkan enzim, agar makanan tersebut menjadi cair, setelah cair makanan akan disedot masuk ke dalam perut sehingga akan mudah bakteri dan virus turut masuk ke dalam saluran pencernaannya dan berkembang di dalamnya.
Penyakit yang disebabkan lalat dan larvanya :
• Lalat menjadi vektor : penyakit gastrointestinal pada mamalia dan feses.
• NDV telah diisolasi pada lalat dewasa lalat rumah kecil (Fannia canicularis) dan larva lalat rumah (Musca domestica).
• Larva dan lalat dewasa (M. Domestica) sering termakan ayam, kemudian menjadi “Hospes Intermedier” cacing pita pada ayam dan kalkun.
• Lalat rumah (M. domestica) yang makan darah ayam yang tercemar kolera unggas dapat menyebarkan penyakit tersebut ke ayam lain.
Suksesnya program control dilakukan dengan suatu metode pendekatan terintegrasi yakni ada 4 strategi manajemen dasar.
1. Memelihara kotoran tetap kering.
2. Metode biologi, seperti menggunakan pemangsa yang menguntungkan (merangsang pertumbuhan musuh alami lalat yang biasanya banyak ditemui di kotoran dan musuh lalat ini dapat tumbuh baik jika kotoran kering).
Kotoran kering akan membantu mendukung berkembangnya pemangsa dan benalu dari perkembangbiakan lalat. Populasi predator dan parasit terutama terdiri dari kumbang, kutu dan lebah. Pertumbuhan musuh lalat ini umumnya lebih lambat dibanding lalat itu sendiri. Populasi yang cukup tinggi pada hakekatnya bermanfaat bagi pengendalian lalat dan dapat dikendalikan hanya dengan jalan tidak mengganggu kotoran dalam jangka waktu yang lama. Untuk memelihara populasi serangga, maka pindahkan kotoran yang berlebih di minggu-minggu awal atau saat musim dingin (saat lalat kurang aktif), seperti halnya memperkecil penggunaan insektisida pada kotoran.
Di Denmark telah ditemukan penemuan baru berupa pemangsa lalat dari lalat itu sendiri. Prinsip yang dipakai adalah jika kepadatan lalat makin tinggi, maka lalat ini dapat menjadi pemangsa bagi lalat lain. Asal pemangsa yang digunakan ini ditemukan di Kenya, termasuk genus Ophyra Aeenses yang dapat memangsa lalat yang tidak
diinginkan.Serangga Kenya ini bertelur di kotoran dan dapat berhenti bereproduksi ketika temperatur dibawah 15 – 17 0C.
Pada kantong yang terkenamatahari langsung, Ophyra Aeenses tidak bisa bertahan, jenis ini lebih menyukai pergerakan udara yang baik. Penemuan baru itu berupa campuran lalat dewasa, pupa dan larva dalam satu kantung dengan berat 120 gram. Dari telur hingga dewasa, lalat membutuhkan waktu siklus 14 hari, sehingga populasi akan berganti dengan sendirinya. Efek predation/pemangsa akan muncul 2 bulan. Banyaknya kantong yang dibutuhkan tergantung pada ukuran kandang. Untuk tiap 100 m area dibutuhkan 1 kantong. Cara menggunakan metode ini : pada 3 bulan pertama diberi kantong baru. Setelah itu, gunakan kantung baru tiap 2 bulan (hanya untuk memastikan populasi pemangsa tidak berkurang).

3. Metode mekanik yakni dengan biosekuriti.
• Manajemen kebersihan : pembersihan dan desinfeksi kandang, terutama setelah panen.
• Manajemen sampah : pembuangan litter, kotoran dan bangkai ayam.
Pindahkan hewan yang mati
dengan segera dan membuangnya dengan baik (dibakar atau lainnya). Minimalkan akumulasi pakan yang tumpah. Di luar kandang, bersihkan rumput liar disekitarnya untuk menghindari kerumunan lalat dewasa serta agar pergerakan udara di sekitar kandang lebih baik
Manajemen kandang : ventilasi, pengendalian kelembaban litter dan kebocoran air. Lalat dapat berkembangbiak di kotoran dengan
kelembaban 55-85%.Oleh karena ini perlu menghindari agar kandang tidak lembab, seperti mencegah kebocoran, pastikan air tidak masuk ke dalam lubang serta mengatur aliran udara agar dapat memberikan efek kering pada permukaan kotoran.

4. Kontrol kimia melalui aplikasi insektisida atau obat-obatan (spray, fogs dan lain-lain). Salah satu jenis insektisida (produk terbaru Bayer) dalam pengendalian lalat diantaranya adalah Quick Bayt. Quick Bayt merupakan racun umpan lalat yang berbentuk butiran merah. Insektisida ini mengandung kombinasi dari bahan aktif imidakloprid, umpan ganda yang efektif (gula dan musculare) dan bitrex.
Imidakloprid merupakan bahan aktif dari golongan kloronikotinil yag bekerja cepat sebagai racun perut dan sangat efektif mengendalikan lalat. Gula dan Musculare adalah bentuk umpan yang tepat dan poros memudahkan lalat menghisapnya. Umpan ganda ini sangat aktraktif bagi lalat. Bitrex merupakan bahan dengan rasa pahit (tapi disenangi lalat) untuk menghindari tertelannya Quick Bayt oleh hewan atau
manusia. Keunggulan produk ini adalah tahan lama, sehingga memastikan keberhasilan dalam waktu yang lama. Penggunaan Quick Bayt
dapat dilakukan dengan
• Penaburan
Quick Bayt ditempatkan pada tempat berkumpulnya lalat (kemasan 350 gram), dapat digunakan 70 X 5 gram titik umpan, untuk luas area 175 – 200 m2 di area lantai dan dapat pula ditabur dengan sebaran 1,75 – 2 gram/m2.
• Pengulasan
Teknik pengulasan : Quick Bayt dicampur dengan air (1 gram/ml air). Kemudian diaduk sampai rata dan setiap 10 – 15 menit harus diaduk kembali. Setelah itu dioleskan ditempat dimana lalat biasa hinggap atau di kertas. Lalat dapat hidup rata-rata 21 hari, namun jika telah makan Quick Bayt hanya dengan beberapa menit, lalat akan lemas dan akhirnya mati. Pengendalian lalat yang sering dijumpai di peternakan sering gagal dilakukan. Ini disebabkan karena pengendalian hanya dilakukan pada
lalat dewasa tanpa membasmi larvanya atau sebaliknya.. Jika yang dibasmi lalat dewasanya saja, maka larva yang ada pada feses akan dapat berkembang menjadi lalat dewasa. Sebaliknya jika yang dibasmi larvanya, maka lalat dewasa masih mempunyai kesempatan untuk dapat berproduksi menghasilkan telur. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah migrasi lalat seperti antar lokasi farm atau dari
sumber lain, seperti tempat pembuangan sampah atau bangkai ayam. Agar program pengendalian lalat sukses dilakukan, maka keempat
strategi tersebut harus dilakukan secara bersamaan.

Beberapa Penyakit yang disebabkan lalat

Penyakit Tahun Publikasi
– Avian Influenza 1984 Collison
– Campylobacter 1983 Rosef et. al
– ND 1975 Rogoff et, al
– Coccidiosis 1976 Miloushev
– Cestodiosis 1976 Abrams
– Efek Amonia ND Virus 1964 Anderson
– Fowl Pasteurellosis 1972 NN
(Sumber : Pig International Desember 2005 dan Seminar “ Insekta & Transmisi Penyakit”, Drh .Darjono MSc, PhD). BULETIN CP. PEBRUARI 2006

Blog Advertising

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s